Akhyar Nasution, Pertarungan Berujung Pengkhianatan

7

Menjadi seorang walikota bukanlah hal yang mudah. Ada banyak sekali pekerjaan yang menanti dan berjuang demi rakyat.

Jabatan megah tersebut pun sudah pernah dipegang oleh seorang politisi Indonesia bernama Akhyar Nasution yang berhasil menjadi seorang Walikota Medan antara 2019 dan 2021.

Masa jabatannya yang kilat tersebut sebenarnya terjadi akibat walikota sebelumnya Dzulmi Eldin terkena sebuah kasus korupsi sehingga membuat Akhyar Nasution yang kala itu menjabat sebagai wakil menjadi ketua Walikota.

Namun siapa sangka kekalahannya di putaran kedua membuahkan sebuah drama yang begitu tragis.

Terdapat sebuah pertikaian yang berujung pengkhianatan dari kubu partai tempat Akhyar bernaung.

Boby Nasution, seorang rivalnya pada pemilihan walikota di tahun 2021 membuatnya menjadi bulan-bulanan oleh partainya sendiri, PDI-P.

Sebagai menantunya Presiden RI Joko Widodo, Boby memenangkan kursi jabatan yang baru dan menggeser Akhyar dari singgasananya tersebut.

Bak sudah jatuh ditimpa tangga, Akhyar pun akhirnya dikeluarkan dari fraksi PDI-P sehingga sempat menjadi berita hangat di kalangan elit politik dan masyarakat luas, terutama warga Medan.

Musuhnya Musuhmu Adalah Temanmu

Seperti sebuah pepatah yang mengatakan bahwa “musuhnya musuhmu adalah temanmu”, Akhyar akhirnya ditarik oleh partai oposisi untuk bergabung dengan mereka, yakni Partai Demokrat dan PKS.

Akhyar sendiri sempat berterima kasih kepada Partai Demokrat dan PKS atas dukungannya tersebut.

Dikatakan pada CNN, Akhyar menyebut rivalnya sebagai “gerombolan yang menunjukkan kekuasaan”.

Tak sedikit pula orang yang menilai bahwa kemenangan Boby itu sebagai bagian dari politik dinasti.

Bahayakah Politik Dinasti?

Tergantung dari masing-masing pemimpinnya! Sama halnya seperti seorang raja yang memiliki sebuah negara.

Jika misalnya raja dan keturunannya sangat welas asih dan berjuang untuk rakyat, maka politik dinasti tersebut tentu menjadi hal yang menguntungkan dan memakmurkan.

Sebaliknya, jika sang pemimpin hanya memikirkan isi perut kelompoknya sendiri, maka yang menjadi korban adalah rakyat.

Contoh paling nyata dan terlihat dengan mata telanjang adalah pemerintah Korea Utara yang begitu diktator. Bisa kita intip berapa banya warga yang merasa tertekan dan mencoba kabur dari negara tersebut untuk mencari suaka.